Tuhan yang PRO terhadap PENDOSA Vs. Tuhan yang PRO terhadap KORBAN

Tuhan Agama Samawi adalah Tuhan yang Tidak Maha Adil bagi Kalangan KORBAN, Menghapus Dosa-Dosa Para PENDOSAWAN

Question: Hakim yang adil, menghukum pelaku kejahatan untuk memberikan keadilan kepada kalangan korban. Namun mengapa, Tuhan yang disebut “Maha Adil”, justru standar moralnya kalah adil dengan hakim di pengadilan dunia manusia, mengingat dalam agama kristen atau nasrani, yesus memasukkan ke surga dua orang penjahat yang turut disalib bersama yesus, dan dalam islam bahkan muslim yang mencuri dan berzina pun diberi “kabar gembira” berupa dimasukkan ke surga? Bukankah “kabar gembira” bagi pendosa, sama artinya “kabar buruk” bagi kalangan korban? Bila alasannya adalah karena Tuhan tersebut senang karena dipuja-puji dan disanjung oleh sang pendosa, maka itu lebih menyerupai “raja yang lalim” ketimbang “hakim yang adil”.

Brief Answer: Itulah bukti tidak terbantahkan, bahwa setidaknya ada dua versi Tuhan yang dipercayai oleh umat manusia : versi Tuhan yang PRO terhadap PENDOSA, dan versi Tuhan yang PRO terhadap KORBAN. Nila setitik saja, rusak susu sebelanga. Tuhan versi “Agama DOSA” semacam islam maupun nasrani, yang mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa, justru senang dipersatukan dengan manusia-manusia kotor, buruk, dan tercela (para pendosawan), karenanya Tuhan versi agama samawi merupakan “Tuhan yang KORUP”. Begitupula surga, terdapat dua versi surga, yakni “surganya para pendosawan” dan “surganya orang-orang baik”. Yang jelas, di mata orang-orang suci dan ksatriawan, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” merupakan dogma kotor yang menjijikkan, tercela, hina, serta dangkal.

PEMBAHASAN:

Bila kita merujuk langsung pada sumber otentik agama-agama samawi, tampak jelas bahwa sebutan “Maha Adil” bagi Tuhan versi agama samawi yang dinamai “Allah” adalah hanya sekadar sebagai “jargon” belaka, dimana fakta yang ada justru memperlihatkan sebaliknya, memotivasi para umat pemeluknya untuk menjadi manusia-manusia TOXIC (BERACUN), BURUK, BUSUK, JAHAT, KORUP, TERCELA, HINA, DANGKAL, serta KOTOR, tanpa mau menghadapi konsekuensi serta bahaya dibalik perbuatan-perbuatan jahat yang buruk dan tercela, serta semakin menegaskan bahwa agama samawi seutuhnya merupakan “Agama DOSA” bagi para PENDOSAWAN—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

“Standar moral” semacam apakah, yang menjadi sunnah nabi rasul Allah? Telah ternyata berupa teladan MABUK dan MENCANDU PENGHAPUSAN DOSA—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]

Pendosa, namun hendak berceramah perihal akhlak serta hidup jujur, bersih, suci, mulia, agung, luhur, serta baik? Itu ibarat orang buta yang hendak menuntun para butawan lainnya. Neraka pun dipandang sebagai surga, dan dosa dipandang sebagai suci. Adapun sebaliknya, khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha JILID II”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra Anggara:

140 (10) Pembabar

“Para bhikkhu, ada empat pembabar ini. Apakah empat ini?

(1) Ada pembabar yang kehabisan makna tetapi tidak kehabisan kata-kata.

(2) Ada pembabar yang kehabisan kata-kata tetapi tidak kehabisan makna.

(3) Ada pembabar yang kehabisan baik makna mau pun kata-kata.

(4) Dan ada pembabar yang tidak kehabisan baik makna mau pun kata-kata.

Ini adalah keempat pembabar itu. Adalah tidak mungkin dan tidak terbayangkan bahwa seseorang yang memiliki empat pengetahuan analitis dapat kehabisan makna atau kata-kata.”

[Kitab Komentar : Empat pengetahuan analitis (paisambhidā), secara ringkas: pengetahuan makna adalah pengetahuan analitis pada makna (atthapaisambhidā); pengetahuan Dhamma adalah pengetahuan analitis pada Dhamma (dhammapaisambhidā); pengetahuan tentang bagaimana mengungkapkan dan menyampaikan Dhamma adalah pengetahuan analitis pada bahasa (niruttipaisambhidā); dan pengetahuan tentang pengetahuan adalah pengetahuan analitis pada kearifan (paibhānapaisambhidā).

Pengetahuan analitis yang terakhir ini tampaknya merujuk pada kemampuan untuk secara spontan menerapkan ketiga jenis pengetahuan lainnya untuk dengan jelas menyampaikan Dhamma. Dari perspektif yang lebih filosofis, attha dianggap sebagai akibat dari suatu sebab (hetuphala) dan dhamma adalah suatu sebab (hetu) yang menghasilkan akibat. Oleh karena itu pengetahuan analitis pada makna berhubungan dengan pengetahuan pada kebenaran mulia pertama dan ke tiga, pengetahuan analitis pada Dhamma berhubungan dengan pengetahuan pada kebenaran mulia ke dua dan ke empat. Pengetahuan analitis pada makna adalah pengetahuan pada masing-masing faktor dari kemunculan bergantungan dalam perannya sebagai akibat yang ditimbulkan dari kondisi, dan pengetahuan analitis pada Dhamma adalah pengetahuan pada faktor yang sama dalam perannya sebagai kondisi yang memunculkan akibat.

~0~

V. Kemegahan

141 (1) Kemegahan

“Para bhikkhu, ada empat kemegahan ini. Apakah empat ini? Kemegahan rembulan, kemegahan matahari, kemegahan api, dan kemegahan kebijaksanaan. Ini adalah empat kemegahan itu. Di antara keempat kemegahan ini, kemegahan kebijaksanaan adalah yang terunggul.”

~0~

142 (2) Sinar

“Para bhikkhu, ada empat sinar ini. Apakah empat ini? Sinar rembulan, sinar matahari, sinar api, dan sinar kebijaksanaan. Ini adalah keempat sinar itu. Di antara keempat sinar ini, sinar kebijaksanaan adalah yang terunggul.”

~0~

143 (3) Cahaya

“Para bhikkhu, ada empat cahaya ini. Apakah empat ini? Cahaya rembulan, cahaya matahari, cahaya api, dan cahaya kebijaksanaan. Ini adalah keempat cahaya itu. Di antara keempat cahaya ini, cahaya kebijaksanaan adalah yang terunggul.”

~0~

144 (4) Kilauan

“Para bhikkhu, ada empat kilauan ini. Apakah empat ini? Kilauan rembulan, kilauan matahari, kilauan api, dan kilauan kebijaksanaan. [140] Ini adalah keempat kilauan itu. Di antara keempat kilauan ini, kilauan kebijaksanaan adalah yang terunggul.”

~0~

145 (5) Benda Bercahaya

“Para bhikkhu, ada empat benda bercahaya ini. Apakah empat ini? Rembulan adalah satu benda bercahaya, matahari adalah satu benda bercahaya, api adalah satu benda bercahaya, dan kebijaksanaan adalah satu benda bercahaya. Ini adalah keempat benda bercahaya itu. Di antara keempat benda bercahaya ini, kebijaksanaan adalah yang terunggul.”

Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS